Berharap pada Allah
- KIKI & MONA

- May 22, 2019
- 3 min read
Updated: May 23, 2019
Cerita ini adalah kisah nyata dari dr. Monic ketika koass* stase** anak. Oh ya dan cerita ini sudah mendapat izin dari orang tua anak dalam cerita ini untuk dibagikan.
Bismillah..

Januari 2018.
Entah itu jaga*** keberapa yang sudah saya lalui. Hari itu saya mendapat tugas di HCU-Anak, High Care Unit, ruangan dengan tingkat observasi yang tinggi. Pasien yang dirawat disana sangat perlu perhatian khusus. Saya masih ingat, ditugaskan di bed 7 untuk mengobservasi sekaligus membagging**** seorang anak laki-laki berusia 3 tahun yang mengidap glioblastoma. Singkatnya, glioblastoma adalah tumor otak. Pusat pengendalian pernapan anak tersebut sudah terganggu, sehingga perlu mendapatkan bantuan napas dengan alat. Pernapasan anak tersebut bergantung pada alat yang saya kembang kempiskan sesuai hitungan, ya 24 jam harus seperti dijaga seperti itu. Kebayang bukan, harus berjaga sepanjang malam untuknya.
Walaupun menurut saya tugas jaga di HCU ini lumayan berat, karena harus observasi ketat. Tapi saya merasa senang ditugaskan di HCU, sambil observasi saya dapat melihat langsung wujud cinta-kasih orang tua kepada anaknya, menemani dan menyemangati si anak agar lekas pulih, setiap saat.
Ya, saya selalu suka setiap sudut rumah sakit, yang mendengar lebih banyak doa dari pada lantai tempat ibadah. Setiap harap seaakan bergema tiap sisinya.
Waktu itu pukul 22.00. Ketika tugas jaga apalagi HCU, rasanya sudah biasa tidak tidur malam. Tapi kadang juga sesekali bergantian istirahat dengan teman. Orang tua pasienpun juga biasanya bergantian, kali ini yang menjaga anak di bed 7 tersebut adalah ayahnya. Waktu itu kali pertama saya bertemu dengan beliau. Tak perlu waktu lama, kamipun bertukar cakap.
"Pak, perkenalkan saya Monic. Koass jaga buat adek ini ya" sapa saya sambil senyum memperkenalkan diri.
"Oh iya dokter monic, saya bapak S (inisial nama)" katanya ramah.
Adalah suatu kebahagiaan tersendiri dek koass ini dipanggil "dok" (yagasih, apa aku aja) wkwk.
"Baru ya di ruangan ini?" tanya si bapak.
"Oh iya pak, saya baru jaga di ruang ini" jawab saya.
Kemudian kami ngobrol tentang banyak hal. Si Bapak menceritakan bagaimana awal anaknya sakit. Sampai pada satu topik yang membuat saya tertusuk.
"Dok, sudah berapa lama disini, lama ya?" Tanya si Bapaak.
"Hmmm, bulan mei nanti setahun sih pak." Jawabku
"Wah lumayan ya, dokter pernah lihat keajaiban ndak?" Ucap bapak sambil menunduk.
"Hmm, maksudnya yg seperti apa pak?" Tanyaku
"Misal, ada seorang pasien coma, divonis tidak ada harapan, suatu saat dia terbangun" kata si Bapak dengan tatapan nanar.
Mataku mulai berkaca-kaca, menahan mencoba tidak menangis didepan keluarga pasien.
"Anak ini keajaiban pak, 3 bulan dengan bagging masih ada untuk ibu bapak. Semoga kelak ini keajaiban luar biasa yang pertama saya saksikan di rumah sakit ini ya pak?"
"Jadi, harapan itu pasti ada dok? Misal, suatu saat di CT-Scan ulang, si tumor ini hilang" harap si Bapak
Aku kehabisan kata kata, air mata rasanya sudah terkumpul ditepi. Aku menyerah.
"Tidak ada yang salah pak ketika kita berharap pada Allah. Tugas manusia berdoa dan ikhtiar pak" kataku yang entah kedatangan kata darimana.
Sejak saat itu silahturahmi saya dengan keluarga si anak bed 7, glioma terjalin cukup baik.
Februari 2018
Saya bertugas jaga di ruang perinatologi, ruang bayi. Pukul 23.00 mendapat kabar dari HCU bahwa anak bed 7 menghembuskan napas terakhirnya. Sayangnya pesan tersebut baru kubaca pukul 01.00, aku langsung berlari ke HCU berharap mereka masih disana. Sayang, mereka sudah tidak ada. Aku meminta tolong temanku untuk mencari status anak bed 7 tsb dan diam2 mencatat alamat rumahnya.
Keesokan harinya, kami bertakziah ke rumah pasien tsb. Namun sayang sekali belum sempat ke makam. Sejak saat itu juga, saya sering bertukar kabar dengan orang tua pasien tersebut melalui facebook. Beliau pernah bilang,
"Ketika saya memasrahkan dan berharap yang terbaik kepada Allah, saya tenang. Walaupun anak saya meninggal 7 hari sebelum ulang tahun ke 4-nya, saya ikhlas. Ternyata Allah yang Maha Baik, ingin merayakan ulang tahun bersamanya."
Terima kasih Dik dan Bapak, saya jadi belajar bahwa sebaik-baiknya tempat kembali adalah kepada Allah dan berharap pada Allah tidak pernah mengecewakan. InsyaAllah.
* koass : ko-assisten /co-assistant/ dokter muda, sebutan ketika seseorang sedang menjadani pendidikan profesi dokter umum di rumah sakit pendidikan.
*Stase: adalah putaran lab ilmu yang sedang dilewati koass
***Jaga: istilah yang digunakan ketika mendapat shift malam, namun bedanya koass ini stay mulai pukul 06.00-06.00 keesokan harinya
****Bagging : memberikan bantuan napas dengan ambubag/ bag valve/pompa udara.


Comments